Component 1Component 2Component 3Component 4Component 5  Indonesia Version  
EC - INDONESIA FLEGT SUPPORT PROJECT
Forest Law Enforcement, Governance and Trade

               http://www.eu-indonesia-flegt.org
November, 2009
Report on the results of FLEGT 5th Annual Coordination Meeting

For the fifth year, FLEGT annual coordination meeting was held in Brussels on 19 and 20 November 2009. DG AIDCO Roberto Ridolfi opened the meeting that was attended by a hundred participants from various projects financed by the European Union. ...
June, 2009
Law & Regulation: P.38/Menhut-II/2009 Concerning Standard and Guidelines on Assessment of Performance of Sustainable Production Forest Management and Verification of Timber Legality for License Holders or in Private Forests

Download P.38/Menhut-II/2009....
April, 2009
Save The Forest, Save The World

The first Indogreen Forestry Expo was organized by the Ministry of Forestry, 14-17 April 2009, at the Jakarta Convention Center (JCC). The Expo is the product of the cooperation between the Forestry Information Centre (Pusat Informasi Kehutanan), Secretariat General, Ministry of Forestry with PT. Wahyu Promo Citra....
March, 2009
Information Dissemination on FLEGT and SVSK

On 18-19 March, many forestry stakeholders gathered in Bali to have dialogue and share information related to particularly international cooperation in forestry law enforcement, governance, and trade, including the FLEGT VPA negosiation with the Eropean Union (EU). ...
February, 2009
IndoGreen Forestry Expo 2009

IndoGreen Forestry Expo 2009 on 14-17 April 2009 is set as the strategic and effective exhibition to promote the forestry potentials, Indonesian forest products, services and technology and its supporting industries. It will be hosted by the Ministry of Forestry and supported by Ministry of Environment, Ministry of Agriculture, Ministry of Marine and Fishery, Ministry of Research and Technology, Ministry of Trade, Ministry of Industry and the Indonesian Chamber of Commerce and Industry. ...
 
Petani Ladang Berpindah Membakar Lahan

BANJARBARU, KOMPAS — Para petani ladang berpindah di Kalimantan Selatan di saat musim kemarau seperti sekarang mulai membuka lahan dengan cara membakar lahan. Kondisi itu membuat titik api di Kalimantan Selatan bertambah. Namun, para pendamping masyarakat adat menyatakan, petani ladang berpindah tidak akan menimbulkan kebakaran hutan secara luas.

Pendamping masyarakat adat Davak Meratus di Balai Malaris, Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan (Kalsel) Rudy Ridani yang juga Direktur Yayasan CakrawaIa Hijau Indonesia di Banjarbaru, Jumat (27/8). mengungkapkan saat ini masyarakat Dayak Meratus yang berprofesi sebagai peladang berpindah sudah mulai membakar lahan.

“Beberapa di antaranya sudah membakar lahan, tapi belum semuanya, September ini nanti akan lebih banyak yang membakar,” ujar Rudy. Walaupun pembakaran lahan itu meningkatkan titik api di Kalsel, dijamin api tidak akan menjalar.

Sebelum membakar lahan mereka membuat sekat bakar untuk melokalisasi api sehingga tidak merambat. Ada rekan kami yang ke sana khusus untuk menyaksikan pembakaran lahan terkendali ini,’ ujar Rudy.

Adat “Aruh Ganal”
Hal senada diungkapkan Ancuk, pemandu wisata adat di Loksado. Ia menyebutkan, petani sudah mulai membakar lahan, tetapi pada pekan-pekan ini balai-balai di Loksado akan berhenti membakar lahan masing-masing selama sepekan.

Kebijakan itu merupakan bagian dari upacara adat Aruh Ganal, yaitu upacara syukur atas panen yang telah dicapai serta sebagai tanda permulaan memulai siklus tanam kembali.
“Setelah upacara adat mereka tidak akan melakukan kegiatan termasuk tidak membakar lahan, itu pantangan mereka,” demikian Ancuk.

Jika pekan-pekan ini ada asap kebakaran di kawasan Loksado yang menjadi hutan ekowisata itu, berarti bukan masyarakat adat yang melakukannya.

Jaminan bupati
Bupati Hulu Sungai Selatan Muhammad Syafii mengungkapkan, selain para peladang berpindah, titik api di Kabupaten Hulu Sungai Selatan juga disumbangkan petani rawa. Mereka membakar lahan untuk menyiapkan ladang dl rawa-rawa.

Kami percaya para petani itu mampu melokalisasi api sehingga tidak melebar ke mana-mana. Ini cara tradisional yang dianggap lebih murah dan lebih cepat dibandingkan menggunakan herbisida,” ujar Syafii.

Syafii menjamin keberadaan dan kelestarian rawa-rawa serta kelestarian hutan di Loksado yang menjadi kawasan ekowisata. Di rawa-rawa akan dibuat mina sawit, sementara Loksado sebagai kawasan hutan di Pegunungan Meratus.

Khusus untuk kebijakan hutan di Loksado, saya tidak akan lagi mengeluarkan izin usaha kehutanan di sana,” ujarnya.
(AMR)

 

Last Updated:06 December, 2004

  
 
copyright (c) 2006. EC - Indonesia FLEGT Support Project

Disclaimer: This website has been produced with the assistance of the European Union. The content of this website is the sole responsibility of the EC-Indonesia FLEGT Support Project and the views herein cannot necessarily be taken to reflect the official views of the European Union or the Ministry of Forestry